Wedding Preparation: Kegalauan Menjelang Pernikahan

Selama mempersiapkan pernikahan, bride to be pasti pernah merasakan galau. Makanya ada istilah bridezilla untuk menyebut para bride yang dibikin pusing sama hal-hal berkaitan dengan pernikahan.

Terkecuali kalau kalau emang  tipe pengantin yang terima jadi, semua dipilihin orangtua atau udah ambil paket pernikahan yang semuanya diurus WO. Tapi untuk calon  pengantin yang mengurus pernikahannya sendiri, pasti setidaknya pernah merasakan yang namanya berdebat sama orangtua, bingung pilih vendor, sampai dipusingin sama perintilan kecil  yang awalnya dianggap remeh tapi sebenarnya penting. 

Semakin dekat hari pernikahan, semakin banyak yang harus diputuskan. Dan untuk saya yang sulit mengambil keputusan secara cepat, ini berat sodara-sodara :”D. Apalagi menyangkut momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup aka pernikahan. Menjelang H-3 bulan pernikahan saya, ini deretan kegalauan menjelang pernikahan.

  1. Pakai vendor foto yang mana?

Ada kali selama empat bulan terakhir, sebelum tidur saya selalu scroll instagram untuk ngebandingin portofolio vendor. Sampai akhirnya saya nyaris deal dengan salah satu vendor, udah nerima invoice segala, tapi kata hati bilang jangan. Soalnya style fotonya bukan saya banget meskipun harga udah cocok :”D. *Maafkan aku Mbak T dari vendor M*

Anyway, vendor fotografi ini penting banget buat saya. Ketring bakal habis dalam satu hari, begitu juga dengan gedung dan dekor yang cuma dipakai sekali, tapi foto bakal jadi kenangan seumur hidup. Makanya saya hati-hati banget dalam memilih. Baca rekomendasi vendor-vendor foto wedding pilihan saya di sini.

Pilihan saya: Nesnumoto

2. Kebaya or gaun?

Yes, saat ini gaun  jadi outfit kekinian terutama  buat pengantin berhijab. Tapi ibu saya tetep keukeuh kalau saya lebih baik pakai kain batik dan kebaya saat resepsi. Masalahnya calon suami saya kalau pakai beskap kaya amang-amang kue putu :(.

Memang sih berkebaya itu nggak akan pernah ketinggalan zaman. Apalagi setelah MUA Nanathnadia posting pengantin-pengantinnya yang kebanyakan berkebaya dan pakai siger sunda. Duh, aura pengantinnya keluar banget! Dress will ever get old but traditional outfit will never. Pendirian saya yang awalnya pengen pakai dress mulai goyah ketika lihat album foto ibu saya yang berkebaya dan memakai siger waktu menikah 27 tahun lalu. Klasik dan cantik!

Pilihan saya: Belum diputuskan

3. Classic or brocade?

Ketika melihat busana akad penanyi Andien Aisyah, saya langsung jatuh cinta! Potongannya sederhana tapi klasik. Saya bertekad kalau nanti menikah pengen pakai kebaya kartini seperti yang dipakai Andien.

andien-20150429-001-rita
Ini kebaya Andien yang bikin saya jatuh cinta.
HEADER-ANDIEN
Modelnya klasik, sederhana, dan tanpa payet berlebihan.

Model klasik ini mengacu pada kebaya Kartini dengan leher V yang lebih rendah.

kebaya kartini
Kebaya Kartini yang dipakai Dian Sastro dalam film Kartini.

Untungnya, naireofficial tempat saya pinjam baju nanti punya kebaya klasik yang mirip dengan kebaya Andien. Berikut penampakannya:

IMG_20170929_233400

Sampai fitting terakhir sih saya udah mantap. Abisnya model kebayanya sesuai sama kepribadian saya yang simpel, ga ribet, dan ga suka gerah karena kebaya ini ga perlu pakai manset. Sampai kemudian saya tergoda lihat koleksi kebaya brokat Naire…

Cantik-cantik banget kan??

Pilihan saya: Masih galau

4. Pengen pelaminan yang model gimana?

Kayaknya udah bukan zamannya ya pelaminan besar dengan pilar-pilar megah. Sekarang justru sedang tren pelaminan rustic minimalis. Tapi kok ya bosan juga rasanya lihat pelaminan berwarna hijau atau cokelat di mana-mana. Akhirnya saya memutuskan pakai pelaminan putih non sterofoam.

Nantinya pihak dekor akan membuatkannya dari kayu yang dicat warna putih dan di-furnish mengkilat. Bunga hanya ditempatkan di tiga titik dengan aksen jendela dan daun-daunan hijau yang minimalis. Minim bunga = hemat budget :D. Kira-kira seperti ini modelnya:

IMG_20170930_000011

Rekomendasi vendor dekorasi murah di Bogor bisa dicek di sini.

Pilihan saya:  Wedding Design Bogor

5. Seragam

Soal seragam ini cukup menimbulkan perdebatan sengit di antara saya dan ibu. Saya keukeuh pengen keluarga besar pakai putih, tapi ibu saya ngotot, “Masa badannya besar-besar pakai putih, nanti jadi makin keliatan gendut. Terus masa keluarga inti, keluarga besar, dan penerima tamu samaan warnanya?” Hadeh, gagal deh pakai putih-putih :(. AKhirnya diputuskan seragam keluarga inti jadi warna ungu pastel sesuai baju resepsi saya.

Tapi karena saya kepala batu, akhirnya saya bisa membuju agar keluarga besar dari ayah dan ibu pakai putih semu keunguan. Sedangkan penerima tamu merangkap bridesmaid pakai putih tulang. Again, classic kebaya will never turn old!

6. Dresscode tamu

Dasar korban racun Thebridedept dan Thebridestory, saya jadi pengen nyeragamin tamu pakai warna putih. Dan tentu saja keinginan ini menimbulkan perang bintang antara saya dan ibu. Beliau bilang, “We can’t control what our guess should wear!”

Oh, of course we can Mom. Misalnya dengan menyelipkan kertas kecil di undangan yang isinya aturan dresscode. Eh malah disentak kalau kaya begitu nggak beretika.

Pilihan saya: Masih deadlock 😦

7. Souvenir

Dari awal sebenarnya saya dan ibu udah sepakat mau pakai talenan untuk souvenir. Selain unik, murah, belum mainstream, dan pastinya berguna. Tapi kemudian kami mikir, nanti tamu pada kerepotan ga ya? Secara kan kalau kondangan cuma bawa tas yang gedenya seuprit. Masalah ini kemudian terpecahkan dengan sistem kupon, sehingga souvenir baru bisa diambil sebelum tamu pulang.

Eh kemudian kami kepikiran.  Ibu-ibu sih pasti senang, tapi kalau bapak-bapak atau bujangan kaya teman-teman saya? Mereka ga males gitu bawa-bawa talenan? Akhirnya kami berencana pesan dua macam souvenir, yakni 200 talenan dan 150 pouch. Niat ini urung karena setelah sebulan kondangan berturut-turut, kamu selalu dapat pouch sebagai souvenir! Meski berguna, bosen juga ya dapat pouch terus.

Pilihan saya: Satu jenis souvenir lain belum diputuskan. Ada ide?

8. Venue

Pengennya sih garden party ala-ala wedding hits masa kini. Terus ngundang tamunya 100-200 aja biar jadi pesta intimate. Tentu saja keinginan langsung ditentang oleh ibunda ratu :”D.

Pertama, Bogor di bulan Januari itu rawan hujan. Bahkan bisa hujan terus dari pagi sampai malam nggak berhenti-berhenti. Ibu saya pernah datang ke pesta kebun di Sukabumi. Belum sejam acara, hujan deras mengguyur. Saking tiba-tibanya, makanan banyak yang nggak terselamatkan :(.

Kemudian saya dan calon suami sama-sama berasal dari keluarga besaaaaar. Kayaknya keluarga kami aja kalau digabungkan bisa sampai 100-150 orang :”D. Tapi akhirnya orangtua kami tetap sepakat untuk nggak ngundang banyak-banyak.

Pilihan saya: Resepsi indoor dengan jumlah undangan 350.

9. Gedung

Ini sih yang paling bikin saya jadi bridezilla. Jadi ceritanya gedung yang saya mau, gedung Pascapanen, baru bisa dibooking saat bulan Agustus. Mau kami ngotot bayar DP pun, pihak gedung menolak. Sebagai gantinya kami diminta untuk mencatatkan nama dan tanggal pernikahan. Saya sih pede aja, soalnya kakak saya yang menikah awal Januari dua tahun lalu pun pakai cara ini.

Gedung Pascapanen saya pilih karena ventilasi cahaya yang bagus. Saya nggak suka sama gedung yang serba tertutup sehingga siang dan malam nggak ada bedanya.

Tapi tiba-tiba si pihak gedung bilang kalau gedungnya nggak bisa dipakai di tanggal yang saya mau! Dari situ saya langsung pusing. Saya udah keburu booking foto dan makeup karena takut mereka penuh. Nesnumoto sih nggak masalah untuk mundur tanggal, sedangkan Nanath udah full untuk Januari 2018. Pilihannya adalah diundur sampai Maret karena ayah saya pulang ke Indonesia dua bulan sekali :(.

Akhirnya dengan segala pertimbangan, kami cari gedung lain. Ada yang saya suka, tapi jauh dari rumah atau overpriced dari budget. Setelah googling dan blog walking, akhirnya saya memutuskan pakai Bogor Icon Hotel. Ball roomnya masih baru, berada di lantai 15, cukup luas, dan dua sisinya full kaca sehingga terang dan bisa lihat pemandangan kota Bogor :D.

Bogor icon hotel

Namun ketika saya survey ke sana, kaca di sisi kiri ditutup permanen karena pecah waktu Bogor diserang badai. Meski hanya mengandalkan satu sisi, ruangan tetap terang seperti yang saya mau.

Sayangnya, pakai ball room ini berarti saya harus ambil katering dari sini karena kalau katering dari luar bakal dikenakan charge 30% dari total transaksi :(. Setelah dihitung-hitung oleh ibu saya, kami tetap pakai gedung ini karena jatuhnya lebih murah daripada sewa gedung Pascapanen dan katering dari luar.

(Baca juga: Curhat Mahalnya Biaya Pernikahan Ala Orang Indonesia)

Nah itulah beberapa hal yang bikin pusing selama saya mempersiapkan pernikahan. Pusing, tapi happy dan excited :).

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Wedding Preparation: Kegalauan Menjelang Pernikahan

  1. Salam kenal mbak riri~

    Mengingat tanggal pernikahan aku yg semakin dekat, sedikit banyak bisa merasakan galaunya nentuin pilihan, apalagi habis baca tulisan mbak riri langsung yang, aku bangeet~ :’)
    Apa ada rencana bikin review vendor atau mungkin boleh sharing sedikit? Terutama soal venue yg dipakai sih karena kebetulan aku pakai venue yang sama nanti hehee

    Terima kasih banyak ya mbak and keep writing~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s